Buruk Sangka & Picik

Hidup di Cikarang, yang berdekatan dengan Jakarta ini, ternyata memberi efek yang buruk ke aku. Aku sering main ke Jakarta kalo weekend. Dan aku diajari, jangan mudah percaya pada orang lain kalo lagi di Jakarta, ntar kamu ditipu, dihipnotis, dicopet, dirampok, dsb… Selanjutnya aku berubah menjadi orang yang suka berpikiran negatif dan picik. Semua ini aku sadari ketika aku pulang ke Jogja tahun baru kemaren.

Hari Senin awal liburanku di Jogja, aku dan adikku Dian, ke Samsat Sleman Depok. Aku mau memperpanjang SIM A dan Dian mau buat SIM C yang baru. Kami mencar. Salah satu syarat untuk mempanjang SIM adalah menyertakan Surat Keterangan Sehat dari Puskesmas. Waktu nanya sama mbak polisi yang jaga loket, katanya ada kok klinik kecil dari puskesmas di komplek Samsat ini. Ya sudah, keluarlah aku dari ruangan loket-loket itu. Celinguk sana sini, aku nggak nemu bangunan dengan tulisan klinik ato tempat pemeriksaan kesehatan.

Melihat aku yang kebingungan, ada bapak tua bertanya dengan logat Jawa-nya, “Nyari apa dek?”. Bapak itu pake celana monyet (yang banyak kantongnya itu loh) warna biru tua, pake cincin dengan batu segede bagong, berkuliat keriput kehitaman sama ngisep rokok kretek. Aku bilang, “Oh nggak apa-apa, Pak.”. Aku berpikir, idih palingan calo ntar nawar-nawarin jasa rese gitu lagi, aku kan mau ngurus sendiri. Males banget.. Aku samperin aja petugas polisi terdekat and nanya tempat pemeriksaan kesehatan, si petugas cuman bilang, “Di depan mbak.” sambil nunjuk arah parkiran mobil. Aku masih aja celangak celinguk karena nggak merasa melihat maupun mengerti bangunan yang dimaksud.

Bapak tua itu ternyata memperhatikan aku dan sewaktu aku berjalan mendekat ke arah dia, si bapak tua bilang, “Dek.. Tempatnya di depan sana. Sebrang jalan. Kliniknya dicat warna hijau. Itu kalo adek nanya ya… Kalo nggak ya nggak apa-apa…”. Aku masih aja bilang dalam hati, ih apaan sih. Tapi ya aku tetap mengucapkan terima kasih dan menuju tempat yang dimaksud oleh si bapak tua. Dan ternyata aku menemukan tempat pemeriksaan kesehatan yang aku cari-cari. Aku mikir, ternyata beneran di sini, bapak tua itu ternyata beneran mau nolong ya?

Setelahnya pemeriksaan kesehatan, ternyata aku masih harus mengisi beberapa dokumen lagi. Karena diruangan loket-loket itu pengap, aku keluar dan mengisi di dekat meja tempat bapak tua itu berdiri. Dan tau nggak, kenapa form yang membingungkan itu bisa aku selesaikan dalam waktu singkat, bapak tua itu yang bantu. Dia yang ngasih tau, ini kolom maksudnya apa, kode bank mandiri itu apa, dsb. Malu dan nyeeseeeellll banget rasanya tadi udah berprasangka.. Selesai isi form aku mengucapkan terima kasih ke bapak tua itu dengan setulus-tulusnya dan senyum seramah mungkin.

Ya, di kota yang keras ini kita nggak boleh terlena. Salah-salah nanti bisa kecopetan, ditodong atopun yang lainnya. Tapi bukan berarti semua orang seperti itu.

Ngomong-ngomong…aku jadi ingat, dulu aku pernah juga berburuk sangka ke seorang mbak berjilbab. Kejadiannya di Cikarang. Waktu itu aku lagi nunggu bis mau ke Jakarta. Aku pake baju panjang yang beresleting di punggung. Karena merasa tidak fit, aku memakai baju dalaman lengan panjang juga. Waktu lagi ngunggu bis, tau-tau si mbak berjilbab itu menepuk punggungku. Refleks karena takut, aku mundur dan bilang, ya Allah, apa aku mau di hipnotis ya? Mbak itu terkejut melihat aku melangkah mundur. Sambil tersenyum sungkan dia bilang, “Mbak.. Resleting baju mbak terbuka..”. Arrrrrgghhh… Malunya dobel!!! Malu sudah berburuk sangka dan malu karena kok bisa lupa nutup resleting sampe pol ke atas (untung pake delaman, jadi masih aman). Aku mengucapkan terima kasih dengan menunduk dan muka merah padam.

Aku nggak mau jadi suka berburuk sangka gini… Nggak boleh. Nggak baik. Hati-hati memang perlu tapi aku tidak boleh berburuk sangka dan picik begini. Udah dua kali kejadian. Nambah satu deh resolusiku, berbaik sangka pada orang lain. Terima kasih ya Allah, sudah mengingatkanku agar berubah.. ^^

7 thoughts on “Buruk Sangka & Picik

  1. Hehehe, iya.. Aku juga kerasa banget bedanya waktu pulang ke rumah nenek ku kemarin di Nganjuk ^^ Masi banyak orang baik kok ^^ Tapi kalo di Jakarta sih, i guess it’s still better safe than sorry :p

  2. hmmm,, sama donk.
    Aku juga jadi orang yang gak pedulian selama di jakarta😛, Buruk sangka juga.
    Tapi yang jadi susah itu, misalnya kita baik malah dimanfaatkan😦 atau dianiaya.

  3. iya… perubahannya bener-bener terasa sama aku kemaren pas di jogja. bawaannya negative thinking mulu. parno bakal dimanfaatin. dipikiran kalo udah gt rasanya nggak ada yang baik deh, jelek mulu mikirnya….

    btw iya ya, alif pernah kecurian laptop yah.. hati2 memang penting.

  4. hohohoho…. ntah kenapa dimana2 sering apes, jadi bawaannya ya gitu, kek ga ramah n cuek. ^^
    si elly tuh… yang bisa positip thinking di mana2😀 *bakat kali ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s