Benernya dari kemaren ada beberapa hal yang mengganggu di kepala dan pengen ditulis. Tapi.. baru 1×24 jam udah lupa.. :p Dan inilah versi singkat dari apa yang berhasil aku ingat.

Pertama. Kemaren nonton Kick Andy dengan tema, Jangan Bunuh Diri. Mengisahkan beberapa anak kecil (SD-SMA) yang bunuh diri. Dikisahkan oleh keluarga yang ditinggalkan. Yang bikin nyesek kisah tentang bocah bernama Basir, tewas gantung diri di rumahnya. Kenapa? Menurut orang tuanya yang sehari-hari bekerja jualan di warung kopi, sebelum meninggal, Basir merengek-rengek minta sekolah. Awalnya Basir memang bersekolah, tapi karena pernah diejek sebagai anak gembel, anak pasar, dsb oleh Guru dan teman-teman sekolahnya, Basir nggak mau sekolah lagi. Entah karena hal tersebut ato faktor ekonomi, Basir putus sekolah. Lalu kemudian dia merengek minta sekolah lagi ke kedua orang tuanya. Sayangnya hal tersebut tidak bisa dituruti dikarenakan keadaan ekonomi si orang tua. Beberapa hari berselang, Basir bunuh diri.

Sedihnya, kok si Guru bisa ya ngatain Basir kayak gitu. Kata suamiku, Guru juga manusia, bisa khilaf dan bisa melakukan kesalahan. Iya sih.. Dan, alasan bunuh dirinya pun belum tentu karena si Guru. But still… Ini kali yah yang namanya gara-gara air comberan setitik, rusak susu sebelanga. *maaf guru.. saya juga punya beberapa pengalaman yang jelek mengenai guru yang tadinya mau saya posting tapi nggak jadi :p*

Kedua. *akhirnya aku inget apa yang mau aku tulis* Sekarang ada fenomena baru di Jakarta. Anak-anak jalanan yang mintain uang dengan memberikan rasa mengintimidasi. Hari Minggu kemaren saya dan suami ke Jakarta. Kami beberapa kali menggunakan bis Kopaja dan Metro Mini sebagai transportasi ke sana dan ke sini. Di bis-bis itulah mereka beraksi. Metodenya, menunjukkan silet dengan ceramah bahwa inilah silet yang biasa digunakan untuk mencopet ato melakukan kejahatan lainnya. Dengan silet itu mereka memeragakan adegan menyilet-nyilet kertas hingga kertasnya sobek terus mereka menoreh-norehkan silet ke tangan dan muka mereka. Anehnya mereka nggak luka.

Kemaren itu saya ketemu sampe 3 kali sama rombongan horor itu. 3 kali saya ngasih uang mereka dan jujur, saya nggak ikhlas. Saya ngerasa kayak ditodong. Saya ngerasa takut disilet kalo nggak saya kasih uang. Kata suamiku sih, sebenernya itu tipuan. Mereka nyilet kertas pake sisi yang tajam. Dan mereka nyilet diri sendiri pake sisi sebelahnya yang sudah ditumpulkan. Yang bikin eneq, mereka pake acara bilang, “Dari pada kami nyopet, bla-bla-bla.”. Emang ada bedanya ya?

Ketiga. Lupa :p

4 thoughts on “

  1. “Kata suamiku, Guru juga manusia, bisa khilaf dan bisa melakukan kesalahan.”

    Tapi kok ga tepat yah sikonnya, seorang pendidik ga seharusnya bersikap gitu, mentalnya kurang cocok kayanya buat jadi guru..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s