Anak VS Pasangan

Jadi ceritanya aku follow twitternya Aditya Mulya. Dan semalem dia tweet panjang lebar dan sambung menyambung menganenai Children Vs Spouse alias Anak Vs Pasangan.

Emang sih, kalo diliat-liat, pada saat sebuah keluarga sudah dianugrahi anak oleh Yang Maha Kuasa, anaklah yang menjadi prioritas di keluarga tersebut. Hal ini juga terjadi di keluarga orang tuaku. Aku dan adik-adik adalah nomer 1. Sedangkan, pasangan (suami/istri) adalah nomer 6 *aku anak pertama dari 5 bersaudara :D*. Nomer 1-6 ini maksudnya urutan berdasarkan kebutuhan materi yah, bukan dalam hal ngurusin suami dan anak. Dipikir-pikir mungkin udah sewajarnya seperti itu sih. Tapi semalem pas ngebaca tweetnya Aditya Mulya, aku jadi inget TV Show Nanny 911 yang pernah disiarin di TV.

Untuk yang belom pernah nonton, Nanny 911 ini biasanya bercerita tentang sebuah keluarga yang anaknya pasti bermasalah (remaja-toddler). Dan pada saat si orang tua udah angkat tangan, mereka menghubungi Nanny 911 untuk ngebantu mereka menghadapi anak-anak. Dan dari setiap episode, bisa disimpulkan bahwa, si anak itu bertingkah, bandel dan nggak mau dengerin orang tuanya karena hubungan si orang tua (antara si suami dan si istri) kurang harmonis, misal komunikasinya ternyata kurang, saling nggak pengertian terhadap hal-hal sepele and so on. Dan inti dari setiap masalah di episode Nanny 911 itu, seharusnya pasangan adalah nomer 1. Kalo hubungan kamu dan pasangan harmonis (saling cinta, support, understanding and so on), pasti si anak juga nggak bakal berulah.

Tiap nonton Nanny 911, aku sering ngebatin, walau udah punya anak ntar suamiku harus jadi nomer 1. Dan tweetnya Aditya Mulya mengingatkanku akan hal ini. Semalem dia tweet gini:

  1. Banyak suami yang nuntut istrinya seksi dan bugar. Tapi berapa banyak suami yang sadar bahwa if husbands deserve a sexy wife, doesn’t our wives deserve a sexy husband?
  2. Kita minta istri kita keliatan cantik. Doesn’t she deserve a good looking husband?
  3. Kebanyakan dari kita mementingkan anak daripada istri dan begitu pula sebaliknya. Kalo ada rejeki, yang dicukupkan pertama itu pasti anak.
  4. Salah? Bener banget. Tapi kadang kita lupa bahwa pasangan kita itu sama pentingnya seperti anak.
  5. We don’t ask our children. But husbands ask their wives to trust him at ijab qabul, for life. Dan mereka mau loh. Itu gede banget artinya.
  6. “Kamu mau ya percaya sama saya, percaya sama saya, follow me for the rest of your life.” “I do”. You have no idea betapa berat untuk percaya.
  7. Childreen will stay with us for 25 years. Abis itu mereka cabut. Wives, they stick with us. So make sure they love us.
  8. Ada temen yang planningnya mantep. Semua asset atas nama istri. Begitu anak 17 tahun, pembelian asset langsung atas nama anak.
  9. Alasannya: “Dit, gw palingan mati duluan. Gak tega kalo istri renta harus urus balik nama. Pajak kan 5% dari value. Itu gede.” Bener juga.
  10. Cuman ya resikonya: kalo sampe cerai, otomatis dia jadi gembel tanpa asset. But that’s him. Thinking ahead for his family.
  11. And yes, semua suami wajib thinks ahead. Berhasilnya nomer 3.Yang penting foresight and effort. Kalo gagal istri insya Allah mengerti.
  12. 1 more thing, about children, if we’re a family of 4, better save money for 4. Jangan ditabung semua untuk anak. Belum tentu anak kuat menopang kita nanti.
  13. Dan 4 itu termasuk istri. In case anak-anak nggak kuat nopang istri kalo kita udah nggak ada.

That’s it tweetnya. Sebenernya masih banyak lagi sih dan yang aku tulis di atas nggak persis per kata seperti yang Aditya Mulya tulis *capek oy nengokin ke twitter di hp trus nulisin di sini satu-satu*. Dan karena Aditya Mulya seorang suami jadi ya dia nulisnya dari sisi suami. Aku terharu gitu bacanya semalem. Emang dasar hormone lagi di atas angin, baca ginian dikit jadi pengen mewek deh. Hehehe…

Semalem itu aku jadi inget sama niatanku sebelumnya. Sebagai seorang istri, aku juga harus menomersatukan suamiku pada saat si dedek lahir nanti. Gimana pun yah…Uda-lah sang suami. Yang aku pilih buat aku liat paling akhir waktu mau tidur dan aku liat paling awal waktu bangun for the rest of my life. Trus kalo aku mau ke depannya hubunganku ke anak itu baik trus si anak juga gedenya bener, hubunganku ke Uda juga harus  baik. Karena gimanapun anak ngeliatnya kan ke orang tua.

Yah itu teorinya sih… Pernikahanku dan Uda juga masih seumur jagung. Semoga semuanya bisa dilaksanakan seperti yang diharapkan dan dimudahkan oleh Allah SWT. Amin~

2 thoughts on “Anak VS Pasangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s